
Padukuhan Blambangan, Kalurahan Jogotirto berada 4,3 kilometer sebelah timur pusat kota Kapanewon Berbah. Padukuhan Blambangan awalnya menjadi pusat pemerintahan Kalurahan Jogotirto. Kantor Kalurahan Jogotirto menempati rumah Mbah Lurah Jragung. Kalurahan Jogotirto merupakan penggabungan tiga Kalurahan lama. Yaitu, Kalurahan Jragung, Kalurahan Jogomangsan, dan Kalurahan Bulu. Mbah Lurah Jragung, lurah kalurahan lama di Blambangan membawahi tiga padukuhan. Yaitu, Padukuhan Jragung, Blambangan dan Morobangun.
Kini bangunan bekas kantor kalurahan atau rumah Mbah Lurah sudah tidak berbekas. Berubah menjadi bangunan sekolah taman kanak- kanak. Berada tepat di pojok gapura Kampung Blambangan. Informasi ini diperoleh Raden Buzat Wahyantoro (59 tahun) dan Rini Prabaharsi (53 tahun). Sepasang suami isteri, warga Kampung Blambangan asli. Keduanya masih bersaudara dengan leluhur desa Blambangan.
Yang masih teringat tentang Kampung Blambangan hanya cerita mulai Mbah Lurah Jragung. Cerita awal mula Kalurahan Jogotirto, Mbah Lurah adalah eyangnya Raden Sukendar (alm.). Itupun hanya cerita turun temurun. Tidak ingat siapa nama leluhur atau siapa nama cikal bakal Padukuhan Blambangan. Semua warga yang berusia tua sudah meninggal dunia. Bahkan menurut mantan Dukuh Blambangan, Suraji (64 tahun), tidak ada catatan sejarah Blambangan. Tidak ada catatan nama cikal bakal Padukuhan Blambangan.
Pak Basuki (64 tahun) dan Pak Sumartono (39 tahun), keduanya bapak dan anak, menjadi penanggung jawab makam Kunden. Sejak Mbah Kaum meninggal dunia tidak ada lagi juru kunci makam. Beberapa makam tua terbuat dari batu kapur tidak diketahui lagi nama-namanya. Walaupun sudah ditanyakan sejak dahulu kepada para orang tua atau pendahulu sebelumnya. Setiap ditanyakan makam yang sudah ada sejak dahulu, tapi semua menjawab tidak tahu. Tidak diketahui makam siapa dan dari keluarga siapa. Sampai sekarang tidak ada ahli waris yang menanyakan pula. Ada wewaler atau larangan bagi warga Blambangan. Jika mengantarkan pengantin maupun boyongan pengantin dengan warga di luar Blambangan, tidak boleh melewati jembatan Gemblong dan tidak boleh melewati Gunung Pegat. Harus melalui jalan lain, perlu memutar dan tentu saja perjalanan semakin panjang.
Gunung Pegat, yaitu jalan yang membelah bukit Sentonorejo menjadi dua bagian. Jembatan Gemblong adalah jembatan penghubung Jragung (Jogotirto) dengan Sumber Kidul (Kalitirto). Jembatan Gemblong sekarang untuk wisata lava bantal. Tidak jauh dari jembatan, ke arah timur dekat makam Jragung. Sedangkan ke arah barat dekat makam Gemblong. Bagi yang melanggar wewaler tersebut, bisa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Sering bernasib sial. Misalnya, keduanya akan pegat atau berpisah, atau mengalami kesialan hidup yang lain. Kehidupan ekonominya akan susah, mengalami kecelakaan, cacat, pasangan direbut orang atau selingkuh. Kabarnya dahulu pernah ada juga yang mengalami gangguan jiwa.
Benang Merah Kisah dan Sejarah
Ada salah satu cerita rakyat (folklore) dari berbagai versi yang melegenda. Kerajaan Blambangan di Banyuwangi pada awalnya dipimpin Adipati Kebo Marcuet. Seorang bangsawan dari Bali dengan kepala bertanduk seperti kerbau. Jaka Umbaran diangkat sebagai cucu Adipati Pamengger dari Pasuruan (Probolinggo). Adipati Pamengger sebagai guru Adipati Kebo Marcuet. Kemudian bertapa di daerah gunung Bromo sehingga dikenal sebagai Ki Ajar Pamengger.
Karena seperguruan dengan Adipati Kebo Marcuet, sehingga Jaka Umbaran mengetahui kelemahannya. Dia berhasil menaklukkan Adipati Kebo Marcuet dengan senjata andalan Gada Wesi Kuning. Senjata pemberian Adipati Pamengger (Ki Ajar Pamengger). Serta dibantu seorang pemanjat kelapa yang sakti bernama Dayun.
Mas Aji Wirabhumi, dari Bajoewangie Tempo Doeloe, menyebutkan Ki Ajar Pamengger adalah Lembu Mirunda, putera Brawijaya I yang menjadi guru spiritual di gunung Bromo. Putra Ki Ajar Pamengger adalah Menak Sembar. Yaitu menantu Prabu Siung Laut (Raja Blambangan ke- 4) berkuasa pada tahun 1478-1479. Kemudian digantikan oleh Minak Sembar sebagai raja ke-5 berkuasa pada tahun 1479-1489.
Setelah Jaka Umbaran berhasil membunuh Adipati Kebo Marcuet, ia dinobatkan sebagai adipati baru di Blambangan. Ia berusaha mempersunting Ratu Kenya Majapahit yaitu Ratu Kencana Wungu agar sederajat. Maka Jaka Umbaran mengukuhkan Kadipaten Blambangan sebagai Kerajaaan Blambangan. Sehingga bukan bergelar Adipati Minak Jinggo namun menjadi Prabu Minak Jinggo. Adipati Pamengger tidak berkenan dengan keinginan Minak Jinggo. Dia lalu meninggalkan Kadipaten Blambangan menuju daerah di Gunung Bromo untuk bertapa.
Dalam suluk Balumbung, tokoh Jaka Umbaran merupakan nama lain dari Raden Gajah. Yaitu pimpinan pasukan pengawal istana Majapahit dengan jabatan Bre Narapati. Sehingga dikenal juga sebagai Raden Gajah Narapati. Nama Ba Lumbung terdapat dalam pupuh keduapuluh delapan Negarakertagama. Mempunyai arti dataran rendah kaya sumber air yang subur. Tempat yang gemah ripah loh jinawi, cocok untuk bercocok tanam dan perikanan.
Kedaton Minak Cucu yaitu Minak Jinggo III berada di Candi Bang daerah Wongsorejo Banyuwangi. Kampung Candibang padukuhan Morobangun perbatasan dan bersebelahan dengan Kampung Sentonorejo Padukuhan Blambangan. Di sana terdapat Candi Abang dan Situs Sentono (Gua Sentono).
Ada kesamaan nama wilayah di kalurahan lama Jragung atau wilayah Blambangan yaitu Candibang. Keberadaan Candi Abang dan situs Sentono di Candibang bukanlah suatu kebetulan. Ternyata sama dengan nama pusat pemerintahan kerajaan Blambangan. Yaitu Kedaton Minak Jinggo III di Candi Bang Banyuwangi. Hal ini menunjukkan keinginan tokoh untuk napak tilas secara turun temurun di suatu tempat. Dalam rangka laku tetirah atau pengembaraan mencari ketenangan jiwa. Untuk menambahkan kekuatan atas pusaka (gaman) atau mencari obat (usada). Sesuai yang telah dilakukan pendahulunya atau leluhurnya.
Minak Jinggo Pernah Singgah
Sepeninggal gurunya, yaitu Adipati Pamengger pergi bertapa di Gunung Bromo, . Minak Jinggo merasa sangat kehilangan. Untuk menghilangkan kesedihan hatinya, ia berniat mengulang pengembaraan. Sebagai pelipur lara dan laku menambah kekuatan jiwa dan raga. Serta meningkatkan kekuatan pusaka Gada Wesi Kuning untuk menaklukkan Majapahit. Agar bisa mempersunting Ratu Kencana Wungu.
Dalam pengembaraan Jaka Umbaran menemukan tambahan kekuatan pusaka dan obat (usada). Obat hati menyingkirkan kesedihan. Ia melakukan perjalanan dari timur. Tetirah ke patilasan para leluhur ke segala penjuru wilayah selatan, utara, dan barat. Begitu pula niat Minak Jinggo III, ingin melepaskan kerinduan kepada para leluhurnya.
Selama pengembaraan Jaka Umbaran yang telah menjadi Prabu Minak Jinggo bersama (kinanthen) dengan pengawal dan abdi kinasih. Perkampungan kala itu baru ada sedikit rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Antar rumah satu dengan lainnya terlahang sawah, pategalan dan hutan. Demikian pula halnya pengembaraan Minak Cucu (Minak Jinggo III).
Ia tetirah di Candi Abang dan Sentono, lalu melanjutkan ke petilasan leluhur arah utara di daerah Cangkringan. Ke arah barat daerah Minggir dan ke arah selatan daerah Imogiri. Walaupun semua ritual dan pemujaan dilaksanakan secara singkat dan sederhana. Namun tetap terlaksana dengan hikmat dalam suasana yang agung. Hal itu berpengaruh bagi warga yang menetap di sekitar tempat pemujaan. Ritual di Candi Abang, Gua Sentono, Setren dan Morobangun. Mereka merasa mendapatkan pangaribawa dan harapan dari Minak Jinggo tentang masa depan. Kehidupan yang lebih baik di daerah Blambangan. Meskipun hanya sebagai tempat singgah Minak Jinggo untuk istirahat sejenak.
Seperti telah disampaikan Raden Buzat Wahyantoro alias Toro (59 tahun), salah satu keturunan trah (sempalan trah) Mbah Lurah Jragung (Blambangan). Toro pernah mendengar (capet-capet) tapi tidak ingat cerita dari siapa. Bahwa saat Minak Jinggo singgah di rumah leluhurnya Mbah Lurah, berkata, “Besok kalau ada kemajuan jaman (rejaning jaman) tempat ini diberi nama Blambangan”.
Perjalanan dalam pengembaraan dilakukan secara diam-diam (sesingitan). Bahkan melakukan penyamaran untuk menjaga keamanan dan ketepatan waktu. Agar segera dapat berpindah menuju ke petilasan lainnya yang berjarak cukup jauh. Sehingga banyak warga menyembunyikan informasi tentang kedatangan Jaka Umbaran maupun Minak Cucu. Warga segera menghilangkan jejak Jaka Umbaran maupun Minak Cucu saat singgah (ngaso) di padukuhan Blambangan.
Nama Raden di keluarga Mbah Lurah Jragung, diberikan oleh orang tua mereka sejak lahir dan tidak diberikan kepada semua anak laki-lakinya. Toro manambahkan, “Saya juga tidak tahu kenapa saya sendiri yang diberi nama depan Raden, padahal saya enam bersaudara”. Jadi nama depan Raden bukan gelar tapi memang bagian dari nama asli.
Untuk menjaga keistimewaan dan menjaga rahasia keberadaan Jaka Umbaran dan Minak Jinggo di wilayah Blambangan. Warga Blambangan disarankan sebaiknya tidak menikah atau mencari jodoh dari wilayah lain. Semua warga menikah dengan saudara satu keluarga besar maupun sesama trah Blambangan.
Jaman berganti, warga semakin banyak, baik di Blambangan maupun di luar Blambangan. Leluhur Blambangan mengijinkan keturunannya menikah dengan warga dari luar Blambangan. Dengan syarat, saat mengantar pengantin dan boyongan tidak melewati Gunung Pegat dan jembatan Gemblong.
Pembuat Artikel: Sabatina Rukmi Widiasih
Tenaga Ahli Penulis: M. Budi Sarjono
Foto: Sabatina Rukmi Widiasih
